KILAS BALIK - PUISI

Ratri yang senyap menyatu dengan dinginnya dinding kamar. 

Ruangan yang penuh dengan isi duka dan kesal. 

Gelapnya ratri menjadi pelengkap getirnya rasa lara dan perih.

Sendiri. 


Langit-langit malam turut menentang kesal. 

Berdecak penuh amarah. 

Bergumam dan bertanya, kepada siapa duka ini meminta pertanggungjawaban? 

Sementara bentala telah kehabisan aksara. 


Apakah tangis masih pantas menghiasi pelupuk mataku? 

Sementara engkau telah berjalan jauh.

Apakah segala lara ini masih pantas ku naungi? 

Sementara engkau di sana tengah menari-nari merayakan kebebasanmu tanpaku. 


Segala rasa dan lara ini telah terbawa pawana malam yang menjadikannya aksa. 

Lara dan perih hanya efemeral. 

Sebab tak selamanya nestapa adalah candala. 

Nestapa adalah bagian dari meraki dalam upayanya menjadi sempena. 

Komentar

Postingan Populer