Ayah, Sebuah Panggilan Sunyi - Puisi
Ayah,
aku bukan sekuat yang kau pikir.
Ada ketakutan-ketakutan yang tak bisa kutepis,
tertimbun dalam hati seorang anak perempuan yang rindu pelukmu.
Kapan terakhir kita duduk satu meja makan,
membagi cerita, tanpa ada jarak di antara kita?
Kapan terakhir kau antar aku ke bus,
dan bertanya, “Bagaimana sekolahmu, Nak?”
Aku merindukan itu, Ayah.
Pernah aku kesal,
ketika kau melarangku melangkah ke kota Malang,
atau saat kau menjauh dari kakak,
seperti ada dinding yang tak kasat mata.
Aku sering menyalahkan diri,
berpikir mungkin kehadiranku menjadi beban,
menjadi sebab jarak antara kalian.
Aku punya banyak pertanyaan yang belum berjawab,
punya banyak ketakutan yang menggantung di jiwa,
takut gagal, takut ditinggal—
takut kau pergi sebelum aku siap.
Jadi, kumohon, tetaplah di sini.
Lunak sedikit hati untuk kakak,
karena kalian adalah cinta pertama dalam hidupku,
tempat pulang, yang selalu ingin kutuju.
- Anak Bungsu Perempuan
Komentar
Posting Komentar