Dalam Ruang yang Tak Bernama

Kita saling jatuh,

tanpa aba-aba,

tanpa tahu kapan tepatnya rasa itu tumbuh.


Kau hadir,

tapi tak sepenuhnya.

Seperti lelaki yang berdiri di ambang pintu—

setengah dalam gelap,

setengah ingin menyentuh cahaya.


Sesekali kau keluar,

membawa senyum yang kutunggu-tunggu.

Sesekali kau kembali masuk,

membiarkan aku menggigil di batas tanya.


Aku ingin menuntunmu,

dengan bisik-bisik harap

dan mata yang menahan air,

namun tak bisa memaksamu keluar

dari luka yang mungkin belum siap kau tinggal.


Aku hanya bisa berdiri,

menjaga cahaya agar tetap menyala,

meski kecil,

meski hanya cukup untuk menunjukkan

bahwa aku ada—

dan diam-diam berharap,

kau benar-benar memilih jalan pulang.


Kediri, 17 April 2025

Komentar

Postingan Populer