Cemara yang Rapuh — Episode II
Nada sambung itu akhirnya terputus, digantikan suara yang begitu kukenal, namun terasa asing.
“Halo?”
Suaranya lebih berat, lebih pelan. Tak ada nada bercanda seperti dulu. Aku menelan ludah, menahan getar di dada.
“Kak… pulanglah. Ayah dan ibu mau berangkat haji.”
Di seberang sana, sunyi menggantung. Aku bisa membayangkan Arya menatap lantai, atau mungkin langit, menimbang-nimbang sesuatu yang tak pernah selesai.
“Ayah… masih marah?” tanyanya lirih.
Aku tak tahu harus menjawab apa. Maka aku hanya berkata, “Ayah ingin bertemu.”
Beberapa hari kemudian, Arya pulang.
•_
Langkahnya terdengar di halaman rumah saat senja turun. Tubuhnya lebih kurus, wajahnya lebih matang oleh letih. Ia berdiri canggung di ambang pintu, seperti tamu yang ragu dipersilakan masuk. Ibu lebih dulu memeluknya—erat, lama, sambil menangis tanpa suara. Tangis yang seperti disimpan bertahun-tahun.
Ayah berdiri di sudut ruang tamu. Tak ada pelukan. Tak ada kata sambutan. Hanya anggukan kecil, nyaris tak terlihat.
“Masuk,” ucap ayah singkat.
Itu saja.
Kami duduk satu meja untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Piring-piring beradu pelan, sendok beradu dengan mangkuk, namun tak ada percakapan yang benar-benar hidup. Ayah makan dalam diam, Arya menunduk, seolah setiap suapan adalah beban yang harus ditelan perlahan.
Rumah ini kembali lengkap. Tapi rasanya berbeda. Seperti rumah lama yang diperbaiki dari luar, namun dinding-dinding dalamnya masih menyimpan retak.
•_
Hari-hari berikutnya berjalan canggung. Ayah dan Arya jarang bicara. Jika pun berbicara, itu hanya seperlunya—tentang sawah, tentang hal-hal yang aman. Tak pernah tentang masa lalu. Tak pernah tentang luka.
Arya membantu ayah di sawah, seperti dulu. Tapi tak ada lagi percakapan di antara keduanya, tak ada lagi cerita di bawah pohon rindang saat istirahat. Mereka berdiri bersebelahan, namun terasa berjauhan.
Aku sering memperhatikan dari kejauhan. Dua lelaki yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, sama-sama tak tahu bagaimana cara saling mendekat tanpa membuka luka lama.
•_
Malam sebelum keberangkatan haji, kami berkumpul di ruang tengah. Ibu menyiapkan koper, ayah duduk diam, Arya memandangi ayah dari jarak yang tidak begitu jauh.
“Ayah,” ucap Arya tiba-tiba, suaranya gemetar. “Maaf.”
Hanya satu kata. Tapi beratnya seperti membawa seluruh tahun yang hilang.
Ayah tak langsung menjawab. Tangannya berhenti bergerak. Udara seolah membeku.
“Ayah tidak sempurna,” akhirnya ayah berkata pelan. “Tapi ayah tetap ayahmu.”
Bukan maaf. Bukan juga ampun. Tapi itu cukup. Untuk saat ini.
Arya mengangguk, matanya basah. Aku tahu, hubungan mereka belum sepenuhnya pulih. Mungkin tak akan pernah kembali seperti dulu. Tapi setidaknya, mereka tak lagi saling membelakangi.
•_
Aku belajar satu hal dari semua ini: keluarga tak selalu utuh dengan tawa dan kehangatan. Kadang, keluarga bertahan hanya dengan diam dan kesediaan untuk tetap tinggal.
Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup. Cerita ini masih berlanjut. Selamat menunggu kembali.
Komentar
Posting Komentar