Cemara yang Rapuh – Episode IV
Cemara yang Rapuh – Episode IV
Senja tidak benar-benar pergi. Ia hanya bergeser pelan, memberi ruang pada malam yang datang tanpa tergesa.
Langit di atas cemara berwarna abu-abu kebiruan. Tidak gelap sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat bayangan-bayangan memanjang dan melebur.
Lampu teras menyala.
Cahayanya jatuh tepat di antara dua pasang sandal yang masih berada di tempatnya. Tidak ada yang memindahkan. Tidak ada yang merapikan. Seolah keduanya sama-sama tahu, posisi itu sudah cukup.
Di dalam rumah, suara piring bertemu meja terdengar pelan.
Arya duduk lebih dulu malam itu.
Biasanya ia menunggu. Atau memilih makan di waktu yang berbeda. Tapi malam ini, kursi itu sudah terisi sebelum Ayah datang.
Nasi di piringnya masih mengepul tipis.
Ia tidak langsung makan.
Hanya memegang sendok.
Dari arah dapur, Ayah muncul dengan langkah yang sama seperti pagi tadi. Pelan. Terukur. Seolah lantai bisa mengingat setiap suara yang pernah jatuh di atasnya.
Ia berhenti sesaat ketika melihat Arya sudah duduk.
Hanya sesaat.
Lalu menarik kursi di hadapannya.
Suara kayu bergeser terdengar lebih jelas dari biasanya.
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada yang langsung bicara.
Sendok Arya menyentuh piring. Sekali. Lalu berhenti.
Ayah menuangkan air ke gelasnya sendiri. Air itu hampir penuh, sedikit bergetar sebelum akhirnya tenang.
Waktu berjalan, tapi terasa seperti menahan napas.
Arya mengambil satu suap kecil.
Mengunyah pelan.
Ayah menatap piringnya sendiri. Belum tersentuh.
“Masih… dingin?” suara itu keluar akhirnya. Rendah. Hampir seperti suara yang sudah lama tidak dipakai.
Arya berhenti.
Sendoknya menggantung sebentar di udara, lalu turun lagi ke piring.
“Hangat,” jawabnya singkat.
Tidak ada nada marah. Tidak juga ramah. Hanya jawaban.
Ayah mengangguk pelan.
Seolah itu sudah cukup untuk malam ini.
Mereka kembali makan dalam diam.
Namun diamnya berbeda.
Tidak sepadat kemarin. Tidak setajam pagi tadi.
Seperti ada celah kecil tempat udara bisa masuk.
Di luar, angin menyentuh daun-daun cemara.
Tidak lagi kencang. Hanya cukup untuk membuat ujung-ujungnya bergerak pelan.
Ranting yang tadi terjatuh sore hari sudah tidak ada di halaman. Tanah terlihat lebih bersih, meski bekasnya masih tersisa samar.
Setelah makan, Arya berdiri lebih dulu.
Ia membawa piringnya ke dapur.
Langkahnya tidak cepat. Tidak juga ragu.
Air mengalir dari keran, membasahi piring, lalu menghapus sisa-sisa yang menempel tanpa suara.
Ayah masih duduk di meja.
Menatap piringnya yang kini setengah kosong.
Lalu ia berdiri.
Mengambil piringnya sendiri.
Langkahnya menuju dapur terasa sedikit lebih ringan dibanding pagi.
Arya sedikit bergeser ketika Ayah berdiri di sampingnya.
Tidak menjauh.
Hanya memberi ruang.
Mereka berdiri berdampingan di depan wastafel.
Air terus mengalir.
Jari mereka tidak bersentuhan kali ini.
Tapi jaraknya… tidak lagi terasa asing.
Malam semakin dalam.
Lampu di ruang tengah dimatikan satu per satu.
Hanya menyisakan cahaya dari luar yang masuk melalui jendela.
Ayah berdiri di dekat pintu, memandang halaman.
Cemara itu masih di sana.
Tegak.
Beberapa bagian mungkin telah patah.
Namun akarnya tetap mencengkeram tanah dengan kuat.
Dari belakang, langkah Arya terdengar.
Ia berhenti beberapa langkah dari Ayah.
Tidak terlalu dekat.
Tidak terlalu jauh.
“Kemarin… anginnya lebih kencang,” katanya pelan.
Ayah menoleh sedikit. Tidak sepenuhnya.
“Iya.”
Sunyi kembali hadir.
Tapi kali ini, tidak menekan.
Lebih seperti jeda.
“Besok… mungkin lebih reda,” lanjut Arya.
Ayah mengangguk.
“Semoga.”
Mereka berdiri beberapa saat lagi.
Lalu Arya berbalik menuju kamarnya.
Langkahnya tidak lagi secepat pagi tadi.
Tidak juga sepelan sore tadi.
Biasa saja.
Sebelum benar-benar masuk, ia berhenti.
Menoleh sedikit.
“Lampunya… jangan lupa dimatikan.”
Ayah terdiam sejenak.
Lalu mengangguk lagi.
“Iya.”
Pintu kamar tertutup pelan.
Tidak ada bunyi keras.
Tidak ada yang tertinggal terbuka.
Di luar, angin lewat sekali lagi.
Daun cemara berdesir ringan.
Seperti seseorang yang akhirnya berani berbicara—meski hanya sedikit.
Dan malam itu, rumah tidak lagi terasa sepenuhnya dingin.
Komentar
Posting Komentar