Cemara yang Rapuh (Episode I) - Cerpen Sabtu

Tokoh aku tumbuh di keluarga yang penuh cinta. Ayah, ibu, aku, dan kakaknya, Arya, bagaikan pohon cemara yang kokoh, meski diterpa angin, selalu berdiri tegak. Keluarga aku hidup sederhana namun penuh kebahagiaan. Ayah bekerja di sawah, ibu mengurus rumah, dan Arya bekerja di bidang otomotif. Hidup mereka tenang—sampai semuanya berubah.

________________________•_________________________

Aku masih ingat hari itu ketika Arya menikah dengan Wijayanti. Di awal pernikahannya, Wijayanti tampak seperti tambahan sempurna dalam keluarga kami. Tapi lambat laun, wajah aslinya mulai terkuak. Segalanya dimulai ketika Arya tiba-tiba ditangkap polisi. Alasan mereka adalah keterlibatan Arya dalam bisnis mobil ilegal. Namun, menurut kami, itu hanya salah paham. Yang disita hanya satu mobil, bukan jaringan besar seperti yang dikatakan orang-orang. Tapi entah bagaimana, berita itu mengguncang keluarga kami, dan Wijayanti mulai memanfaatkan situasi.

"Dia dipenjara karena kesalahan fatal," ucapnya Wijayanti kepada ayah dan ibu, matanya penuh kepalsuan. Dalam beberapa bulan berikutnya, dia mulai menjauhkan Arya dari kami. Lalu, dia meminjam uang dari ayah, berdalih ingin membuka bisnis kuliner demi membantu keluarga saat Arya tak bisa mencari nafkah. Ratusan juta rupiah diberikan tanpa pertanyaan, karena siapa yang tak ingin membantu keluarga sendiri? Tapi uang itu lenyap, bukan untuk bisnis, melainkan untuk membangun rumah mewah atas namanya sendiri. Tak ada yang tahu hingga semuanya terlambat.

Arya, yang mulai sadar akan kebohongan istrinya, mengajukan gugatan cerai. Tak lama setelah itu, ayah, yang marah besar, mengusirnya dari rumah. “Pergi! Kau sudah menghancurkan keluarga ini!” Ayah tak bisa menahan amarahnya.

Kakakku pergi, dan kami kehilangan jejaknya. Ibu, yang sebelumnya kuat, mulai rapuh. Dia sulit tidur, depresi melanda. Setiap malam, aku mendengar isak tangisnya yang terpendam dari balik pintu kamar.

________________________•__________________________

Di tengah keretakan itu, hidupku pun ikut goyah. Aku baru saja mengetahui bahwa kekasihku, yang telah bersamaku selama tiga tahun, berselingkuh. Saat itu, aku baru saja pulang setelah menyaksikan pertengkaran hebat antara ayah dan ibu. Hatiku sudah lelah, namun ketika aku membuka ponsel, pesan singkat darinya masuk.

“Kita akhiri saja semuanya. Aku tak yakin dengan keluargamu.”

Alasannya terdengar meremehkan, seakan masalah keluarga kami menjadi alasan ia pergi. Tapi ternyata bukan hanya itu. Usut punya usut, dia telah bertemu orang baru lewat game online yang sering dia mainkan. Malam itu, aku merasa dunia runtuh di sekelilingku. Tak ada tempat untuk berlindung dari rasa sakit.

________________________•_________________________

Tiga tahun berlalu dalam keheningan. Sejak Arya pergi, keluarga kami tidak lagi sama. Ayah sibuk di sawah, ibu menjalani hari-harinya dengan memasak dan mengurus rumah dalam kesepian, dan aku, jarang pulang karena kuliah di luar kota. Dua kali setahun aku pulang, saat Idul Fitri dan Idul Adha, namun rumah kami dingin, tanpa kehangatan. Tak ada yang berbicara panjang lebar, tak ada tawa seperti dulu.

_________________________•________________________

Hingga suatu hari, kabar baik datang. Ayah dan ibu berencana menunaikan ibadah haji. Betapa bahagianya aku mendengar kabar itu, meski ada satu hal yang terasa kurang: Arya belum kembali. Bagaimanapun, dia adalah bagian dari keluarga ini.

Suatu sore, ayah tiba-tiba menghampiriku. Dengan suara yang lebih tenang dari biasanya, dia meminta sesuatu yang mengejutkanku.

“Hubungi kakakmu. Minta dia pulang.”

Aku terdiam sejenak. Ayah, yang selama ini terlihat marah dan penuh kekecewaan, sekarang terlihat berbeda. Mungkin kemarahan itu belum sepenuhnya sirna, tetapi aku tahu ada kerinduan di baliknya.

“Hubungi dia untuk pulang, sebelum kami berangkat ke tanah suci,” ulangnya.

Hatiku menghangat. Meski tak banyak kata, aku merasakan angin segar menyelinap masuk ke dalam rumah kami yang sudah lama terasa sesak. Kuambil ponsel dan kucoba menghubungi Arya. Aku tak tahu di mana dia sekarang, atau bagaimana keadaannya, tapi aku tahu, di mana pun dia berada, dia pasti merindukan keluarga ini, seperti halnya aku.

Aku menunggu nada sambung berdering, berharap Arya akan mengangkatnya. Harapan kecilku tumbuh—mungkin, ini adalah awal dari perbaikan keluarga kami yang telah lama hancur.


Komentar

Postingan Populer