Jumat Berpuisi ( PRAGMA - PUISI)
Menulis untukmu adalah sikap terakhir yang membingungkan.
Sebab setiap keberanian yang
susah payah terkumpul,
Seperti pecah menjadi remah.
Sedangkan langkah-langkah kecil
menuju hatimu,
Sering kali membuat tubuhku
lebam berdarah-darah.
Kamu sendiri seharusnya tahu,
Bahwa di kepalaku,
Kamu sudah seperti penjajah
yang menjuru semua arah.
Bayanganmu sendiri sudah
tumpah-ruah,
Ke jalan-jalan, trotoar, bahkan
di atas meja belajar.
Apakah aku harus menyerah dan
pasrah?
Lantas bagaimana,
Hatiku ini bisa hidup
sejahtera?
Sementara isi kepalaku di
penuhi oleh kamu yang selalu berulah.
Agaknya hatiku ini,
Terlalu lemah dan mudah
terbelah.
Sampai tak tersisa celah untuk
kembali menelaah perihal rasa.
Rasa yang salah,
Atau-
Keinginan memilikimu yang tak
mau kalah?
Sebab rasanya,
Diriku tak pernah jera.
Walau luka sudah berkali-kali
aku rasa.
Beberapa purnama pun telah ku
lalui.
Berkali-kali patah pun sudah
tak asing bagiku.
Namun dirimu tak kunjung
mengerti,
Komentar
Posting Komentar