Berprasangka Baik pada Waktu


Aku lelah,

seperti langit yang terlalu lama memanggul hujan—tanpa sempat menjadi biru.

Hari-hari datang, 

dengan langkah tergesa,

menyodorkan tanya yang sama:

“Masih kuat?”


Dan aku—dengan napas yang kadang patah di tengah jalan—hanya bisa mengangguk pada kehidupan,

meski lututku gemetar pelan.

Aku ingin berhenti sejenak, 

menaruh kepala di pangkuan takdir, 

dan menangis tanpa suara.


Tapi hidup, 

tidak pernah benar-benar memberi jeda—pada yang masih bernama manusia.

Maka aku belajar, 

mengeja sabar seperti doa yang diulang-ulang,

meski lidah terasa kelu.


Kepada Yang Maha Kuasa,

aku serahkan retak-retak ini.

Pada-Nya aku titipkan takut,

juga harap yang hampir padam.

Sebab aku tahu,

bahkan malam yang paling pekat, 

tidak pernah lupa cara melahirkan pagi.


Aku mungkin lelah,

tapi aku masih percaya—bahwa setiap air mata, 

sedang ditakar dengan adil,

bahkan pada setiap langkah yang terseok tidak pernah sia-sia.

Jika hari ini terasa berat,

biarlah.

Aku akan tetap berjalan,

meski pelan,

meski tertatih,

sambil berprasangka baik pada waktu.


Karena bukankah Tuhan, 

tidak pernah keliru menulis cerita?

Dan mungkin,

indah itu memang sedang disiapkan—

diam-diam,

di balik sabarku yang nyaris runtuh.


Simorejo, 3 Maret 2026

06.30 WIB

Komentar

Postingan Populer