Cemara yang Rapuh — Episode III
Cemara yang Rapuh – Episode III
Pagi datang dengan langkah pelan, seperti seseorang yang takut membuat suara.
Kabut menggantung rendah di halaman. Pohon cemara di depan rumah berdiri tegak, tapi ujung-ujung daunnya bergetar tipis diterpa angin. Embun belum jatuh sepenuhnya; ia hanya menggantung, ragu.
Di dapur, suara sendok menyentuh cangkir terdengar singkat, lalu hilang. Ayah duduk di kursi kayu yang sama seperti kemarin. Jemarinya melingkari cangkir kopi yang sudah tidak lagi beruap. Ia tidak meminumnya. Hanya memegangnya.
Langkah pelan terdengar dari arah kamar.
Arya muncul dengan wajah yang belum sepenuhnya bangun. Rambutnya sedikit basah, mungkin baru saja membasuh muka. Ia berhenti di ambang pintu dapur. Hanya sedetik. Pandangannya bergerak ke arah meja, ke arah kursi, ke arah tangan yang menggenggam cangkir itu.
Lalu ia berjalan melewati semuanya.
Tanpa suara.
Ayah tidak menoleh. Tapi bahunya menegang sebentar, lalu turun lagi perlahan.
Di luar, pintu kayu berderit ketika Arya membukanya. Udara pagi menyusup masuk, membawa aroma tanah basah dan getah cemara yang samar. Ayah akhirnya mengangkat cangkirnya. Meneguk seteguk yang terasa lebih pahit dari biasanya.
Menjelang siang, angin menguat.
Ranting-ranting kecil jatuh satu per satu dari pohon cemara. Sebagian berserakan di halaman, sebagian tersangkut di pagar bambu yang mulai lapuk.
Arya berdiri di bawah pohon itu, menatap satu ranting yang patahnya masih segar. Ia memungutnya, memperhatikan serat kayu yang terbelah tidak rata. Jarinya mengusap bagian yang kasar. Getah bening menempel di kulitnya.
Dari jendela ruang tengah, Ayah melihatnya.
Tatapan itu tidak lama, tapi tidak juga sebentar. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, namun tidak menemukan jalan keluar.
Arya berjongkok dan mulai mengumpulkan ranting-ranting yang berserakan. Satu demi satu. Ia tidak terburu-buru. Sesekali angin meniup rambutnya ke wajah, tapi ia membiarkannya begitu saja.
Di dalam rumah, kursi kayu bergeser pelan.
Ayah keluar tanpa suara. Ia membawa karung kecil di tangannya. Langkahnya berat, namun tidak ingin terdengar berat. Ia berhenti beberapa langkah dari Arya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.
Arya menyadari bayangan di sampingnya. Tangannya berhenti sesaat, lalu kembali bergerak. Ia meletakkan ranting yang sudah dikumpulkan ke dalam karung yang Ayah pegang.
Jari mereka sempat bersentuhan.
Hanya sebentar.
Arya menarik tangannya lebih dulu. Ayah menggenggam karung itu sedikit lebih erat, seolah takut sesuatu jatuh lagi.
Angin kembali datang, kali ini lebih pelan. Daun-daun cemara berdesir seperti bisikan yang tak terdengar jelas.
Mereka bekerja berdampingan tanpa aba-aba. Tanpa perintah. Tanpa sapaan. Ranting-ranting yang tadinya berserakan kini terkumpul rapi.
Ketika karung itu hampir penuh, Arya berdiri. Punggungnya sedikit kaku. Ia menatap pohon cemara di atasnya—tinggi, hijau, tetap berdiri meski beberapa bagian patah.
Ayah mengikuti arah pandang itu.
Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Bukan senyum. Bukan juga kesedihan utuh. Lebih seperti seseorang yang mengingat sesuatu yang tidak bisa diulang.
Arya berbalik menuju gudang kecil di samping rumah. Langkahnya melambat ketika melewati Ayah. Tidak secepat tadi pagi.
Ayah membuka mulutnya sedikit.
Tidak ada suara yang keluar.
Namun kali ini, Arya tidak langsung menjauh. Ia berhenti setengah langkah. Punggungnya tetap menghadap, tapi bahunya tidak lagi setegang sebelumnya.
Sunyi menggantung di antara mereka.
Lama.
Lalu Arya melanjutkan langkahnya.
Ayah tidak mengejar. Tidak juga memanggil. Ia hanya berdiri di bawah cemara, menatap karung berisi ranting patah yang kini ada di tangannya.
Satu ranting kecil terjatuh dari sela-selanya.
Ayah membungkuk dan memungutnya.
Tidak semua yang patah harus dibuang, pikirnya—meski tak ada yang mendengar pikiran itu.
Sore turun perlahan. Cahaya keemasan menyelinap di antara daun-daun cemara, membuat bayangan rumah terlihat lebih hangat dari biasanya.
Di teras, dua pasang sandal terletak berdampingan. Tidak bersentuhan. Tapi jaraknya tak lagi sejauh kemarin.
Dan untuk pertama kalinya sejak hari-hari yang dingin itu datang, angin tidak terasa sekeras biasanya.
Komentar
Posting Komentar